Logo

Desa Bangka Kota

Kabupaten Bangka Selatan

Home

Profil Desa

Infografis

Listing

IDM

Berita

Belanja

PPID

Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang Tayang: Senin, 11 Mei 2026 21:06 WIB   Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang, https://bangka.tribunnews.com/lokal/1684199/bangka-kota-dan-jejak-peradaban-maritim-yang-perlahan-hilang?page=2. Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra

Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang Tayang: Senin, 11 Mei 2026 21:06 WIB Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang, https://bangka.tribunnews.com/lokal/16

Invalid Date

Ditulis oleh FATKHUROHMAN ( FATOER )

Dilihat 0 kali

Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang Tayang: Senin, 11 Mei 2026 21:06 WIB   Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang, https://bangka.tribunnews.com/lokal/1684199/bangka-kota-dan-jejak-peradaban-maritim-yang-perlahan-hilang?page=2. Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra

BANGKAPOS.COM, BANGKA— Di pesisir barat Pulau Bangka, tepatnya di Bangkakota, Kabupaten Bangka Selatan, suara ketukan kayu dan aroma serbuk papan pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Kawasan yang dahulu dikenal sebagai pusat pembuatan kapal tradisional itu kini nyaris sunyi. Bengkel-bengkel kapal perlahan menghilang, para pengrajin menua tanpa penerus, sementara jejak kejayaan maritim Bangkakota mulai terkikis zaman.

Yang lenyap dari Bangkakota hari ini sesungguhnya bukan sekadar profesi pengrajin kapal. Yang perlahan menghilang adalah jejak panjang peradaban maritim Bangka Belitung.

Sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, menegaskan bahwa Bangkakota bukan sekadar kampung pesisir biasa. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat peradaban kuno di Pulau Bangka yang memiliki peran penting dalam jalur perdagangan Nusantara sejak abad ke-17.

“Bangkakota didirikan setelah jatuhnya Malaka ke tangan Belanda tahun 1641. Kawasan ini menjadi kota pertahanan sekaligus pelabuhan penting di pesisir barat Bangka,” ujar Elvian kepada Bangkapos.com, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, posisi Bangkakota yang berada di muara sungai menjadikannya titik strategis penghubung perdagangan regional. Berbagai hasil bumi dan hasil hutan dari pedalaman Bangka diangkut melalui jalur sungai menggunakan perahu kecil menuju Bangkakota sebelum dibawa menggunakan kapal kayu berukuran besar ke pelabuhan utama seperti Palembang dan Batavia.

Komoditas yang diperdagangkan kala itu sangat beragam, mulai dari lada atau sahang, rotan, damar, madu, gaharu, hingga hasil tambang timah dan besi. Aktivitas perdagangan tersebut melahirkan tradisi maritim yang kuat, termasuk teknologi pembuatan kapal kayu yang berkembang di kawasan itu.

Dalam catatan sejarah, Bangkakota bukan hanya dikenal sebagai pelabuhan dagang, tetapi juga pusat teknologi perkapalan tradisional. Kapal-kapal besar bertiang layar diproduksi untuk kebutuhan perdagangan antarpulau, sementara perahu-perahu kecil dibuat untuk transportasi sungai di dalam Pulau Bangka.

Elvian menjelaskan, kemampuan masyarakat Bangkakota dalam membuat kapal tidak lahir begitu saja. Teknologi itu terbentuk dari pertemuan budaya maritim sejumlah kerajaan besar yang pernah berpengaruh di kawasan tersebut, seperti Johor, Minangkabau, Banten, Palembang Darussalam, hingga Makassar.

“Keahlian pembuatan kapal diperoleh dari pertemuan antar kerajaan maritim yang pernah berkuasa di Bangkakota,” katanya.

Catatan VOC dalam Dagh-Register tertanggal 13 Februari 1682 bahkan menyebut Pangeran Arya, putra Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Palembang, mendirikan benteng pertahanan di Bangkakota dengan dukungan pasukan Makassar. Dari kawasan ini pula diproduksi kapal perang jenis penjajab dan schooner Bangka untuk kepentingan pertahanan dan perdagangan.

Bagi masyarakat pesisir Bangka kala itu, kapal bukan sekadar alat transportasi. Kapal adalah simbol kekuatan ekonomi, identitas budaya, sekaligus penanda kejayaan maritim Pulau Bangka di jalur perdagangan dunia.

Namun kejayaan tersebut kini tinggal cerita. Bengkel-bengkel pembuatan kapal kayu yang dahulu hidup perlahan tutup. Generasi muda tak lagi tertarik meneruskan profesi pengrajin kapal tradisional.

Elvian menilai ada sejumlah faktor yang menyebabkan lenyapnya tradisi pembuatan kapal di Bangkakota. Salah satunya adalah semakin sulit memperoleh kayu berkualitas sebagai bahan baku utama.

Harga kayu yang terus meningkat membuat biaya produksi kapal tradisional menjadi mahal. Di sisi lain, kapal berbahan fiber dinilai lebih praktis, cepat diproduksi, dan memiliki biaya perawatan lebih rendah.


“Tidak terjadinya regenerasi pengetahuan teknologi perkapalan secara formal edukatif juga menjadi penyebab utama,” ujarnya.

Pengetahuan membuat kapal selama ini diwariskan secara turun-temurun tanpa pendidikan formal. Para pengrajin lama mengandalkan pengalaman, intuisi, dan ingatan dalam menentukan ukuran, keseimbangan, hingga konstruksi kapal tanpa gambar teknik modern.

Ketika generasi tua mulai hilang, ilmu tersebut ikut terancam punah.


Bagi Bangka Belitung, hilangnya pengrajin kapal tradisional bukan hanya persoalan ekonomi masyarakat pesisir. Lebih jauh, kondisi itu dinilai sebagai kehilangan besar terhadap sistem pengetahuan budaya maritim yang selama ratusan tahun membentuk identitas daerah.

Menurut Elvian, Bangka Belitung sejak lama dikenal sebagai “The Favourite Commercial Coast” atau kawasan perdagangan favorit di sisi barat Nusantara. Wilayah ini menjadi penghubung penting jalur rempah dunia dan perdagangan antarpulau.

Karena itu, lenyapnya teknologi perkapalan tradisional berarti hilangnya salah satu penanda penting sejarah maritim Bangka Belitung.

“Yang paling besar hilang adalah warisan budaya tak benda berupa sistem pengetahuan teknologi perkapalan tradisional,” katanya.

Kondisi tersebut juga berdampak pada perubahan sosial masyarakat pesisir. Jika dahulu banyak warga menggantungkan hidup dari industri pembuatan kapal, kini profesi itu nyaris tidak lagi ditemukan. Sebagian beralih menjadi nelayan biasa, pekerja tambang, atau meninggalkan sektor maritim sepenuhnya.

Meski berada di ujung kepunahan, Elvian menilai masih ada peluang untuk menyelamatkan pengetahuan perkapalan tradisional Bangkakota. Namun langkah itu harus dilakukan secara serius dan terstruktur.

Ia mendorong adanya upaya progresif dan preservatif melalui pendidikan formal, salah satunya dengan membuka sekolah kejuruan berbasis teknologi perkapalan tradisional.

Selain itu, dokumentasi terhadap teknik pembuatan kapal, istilah-istilah lokal, hingga filosofi maritim masyarakat pesisir juga dinilai penting dilakukan sebelum para pengrajin tua benar-benar hilang.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)



Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Bangka Kota dan Jejak Peradaban Maritim yang Perlahan Hilang, https://bangka.tribunnews.com/lokal/1684199/bangka-kota-dan-jejak-peradaban-maritim-yang-perlahan-hilang?page=2.
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra


Bagikan:

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Logo

Desa Bangka Kota

Kecamatan Simpang Rimba

Kabupaten Bangka Selatan

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia